Jangan Langsung Ambil Obat Sendiri di Apotek, Apoteker Siap Bantu dalam 5 Menit

Jangan Langsung Ambil Obat Sendiri di Apotek, Apoteker Siap Bantu dalam 5 Menit

Banyak orang datang ke apotek sudah membawa “daftar belanja” obat di kepala — entah dari pengalaman sendiri, saran teman lewat WhatsApp, atau hasil googling. Padahal, ada tenaga ahli di sana yang bisa membantu memastikan pilihan itu benar-benar tepat.

Dr. apt. Lucy Novianti, MM, pakar dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), menjelaskan bahwa apoteker sebenarnya bisa melakukan skrining singkat untuk memahami gejala dan keluhan sebelum merekomendasikan obat. Prosesnya tidak lama — cukup tiga sampai lima menit saja.

“Apoteker enggak ada diagnosis, assessment yang singkat dalam waktu 3 sampai 5 menit. Kita bisa tangkap gejalanya apa, keluhannya apa, dan pilihan terapinya apa,” ujar Lucy dalam sebuah acara kesehatan di Depok, Jawa Barat, Kamis (1/10/2026).

Masalahnya, Lucy mengamati bahwa kebanyakan pasien tidak mendatangi apoteker untuk berkonsultasi. Mereka langsung mencari produk yang sudah mereka tentukan sendiri berdasarkan kebiasaan atau informasi yang belum tentu akurat. “Jadi, kadang-kadang pasien itu sudah datang ke apotek, tidak mencari apoteker, tapi mencari produknya. Berdasarkan apa? Berdasarkan pengalamannya sebelumnya, berdasarkan tadi informasi di WhatsApp,” tambahnya.

Untuk memperkuat peran apoteker dalam situasi ini, Halyeon bersama IAI mengembangkan modul khusus tentang gangguan pernapasan dari sudut pandang pasien. Modul ini dirancang agar apoteker lebih terampil menggali informasi dari pasien sebelum memberikan rekomendasi obat.

Selain soal pemilihan obat, ada hal lain yang sering luput dari perhatian: tanggal kedaluwarsa bukan satu-satunya patokan keamanan obat. Ada yang disebut Beyond Use Date (BUD), yaitu batas waktu pemakaian obat setelah kemasannya dibuka — karena setelah terbuka, obat mulai terpapar udara dan cahaya yang bisa mengubah kualitasnya.

Lucy menyarankan agar masyarakat mencatat tanggal pertama kali membuka kemasan obat. Untuk obat cair, rata-rata masih aman digunakan hingga satu bulan setelah dibuka — asalkan tidak ada perubahan warna, bau, atau tekstur. “Kalau warnanya berubah, baunya berubah, suspensinya berubah… bapak, ibu, tidak boleh ragu untuk tetap bapak ibu harus membuang,” tegasnya.

Kesimpulannya sederhana: manfaatkan apoteker yang ada di apotek, bukan sekadar kasir obat. Mereka terlatih untuk membantu, dan lima menit konsultasi bisa mencegah kesalahan pengobatan yang berpotensi merugikan kesehatan.

Sumber: Liputan6

Baca Juga

Scroll to Top