
Di balik kebiasaan scrolling yang terasa sepele, ada dampak nyata yang mulai dirasakan banyak orang—dari susah berkonsentrasi, tidur tidak berkualitas, hingga sakit kepala yang datang berulang. Fenomena ini kini dikenal dengan istilah ‘smartphone brain’, sebuah kondisi yang muncul akibat penggunaan ponsel secara berlebihan dan tidak terkontrol.
Dr. Gaurav Batra, dokter spesialis bedah saraf dari Yashoda Medicity India, menjelaskan bahwa salah satu kebiasaan paling berbahaya dari penggunaan HP adalah berpindah-pindah tugas secara cepat—misalnya dari membalas pesan kerja, lalu tiba-tiba tergoda notifikasi, kemudian lompat ke media sosial. “Kebiasaan ini membuat perhatian terfragmentasi (terpecah-pecah),” jelasnya.
Otak yang terus-menerus dibanjiri notifikasi dan konten singkat seperti Reels atau TikTok lama-kelamaan terlatih untuk selalu ingin hal yang serba cepat dan instan. Akibatnya, kemampuan untuk fokus dalam waktu lama—misalnya saat belajar atau menyelesaikan pekerjaan—bisa menurun drastis.
Masalah tidur juga masuk dalam daftar dampak serius. Penelitian menunjukkan setiap tambahan satu jam screen time per hari bisa memangkas waktu tidur 3 hingga 5 menit. Bukan hanya soal paparan cahaya biru dari layar, Dr. Batra menegaskan ada faktor lain yang lebih besar: “HP membuat otak tetap terlibat secara mental, memicu kita menunda jam tidur, dan membentuk kebiasaan buruk untuk langsung memeriksa ponsel setiap kali terbangun di malam hari.”
Sakit kepala juga kerap muncul akibat posisi tubuh yang buruk saat memakai ponsel—kepala menunduk terlalu lama, leher dan bahu menegang, serta mata yang jarang berkedip dan dipaksa menatap cahaya layar. Kombinasi inilah yang biasanya memicu tension headache atau sakit kepala tipe tegang.
Jika gejala-gejala seperti susah fokus, tidur buruk, dan pusing ini bertahan lebih dari dua minggu meski sudah mencoba membatasi penggunaan ponsel, Dr. Batra menyarankan untuk tidak menundanya: “Jika sakit kepala terasa sangat parah, makin memburuk, hingga disertai gangguan penglihatan, lemas, atau gejala saraf lainnya, segera konsultasikan ke dokter untuk pemeriksaan medis menyeluruh.” Mengenali tanda-tanda ini lebih awal bisa menjadi langkah penting menjaga kesehatan otak di era digital.
Sumber: Detik.com



