
Di tengah perang dagang dan rivalitas Amerika Serikat versus China yang kian memanas, Indonesia justru dinilai punya kartu truf: posisi geografis strategis dan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang tak memihak siapa pun.
Politikus senior Golkar sekaligus mantan Ketua MPR, Bambang Soesatyo atau akrab disapa Bamsoet, menyampaikan pandangan itu dalam kuliah pascasarjana daring di Universitas Pertahanan (Unhan) Jakarta, Jumat (2/10/2026). Ia menekankan bahwa Indonesia tidak harus berpihak ke salah satu blok kekuatan besar dunia.
“Indonesia tidak perlu memilih Timur atau Barat. Indonesia harus tetap bebas aktif. Kita dapat bekerja sama dengan Amerika Serikat tanpa menjadi perpanjangan tangan Amerika Serikat, bekerja sama dengan China tanpa kehilangan kewaspadaan dan kedaulatan, serta aktif di BRICS tanpa menutup pintu kepada mitra lainnya. Bebas aktif adalah keberanian untuk berpikir dengan kepala sendiri, berbicara dengan suara sendiri, dan bertindak berdasarkan kepentingan nasional,” ujar Bamsoet.
Ia juga menyoroti data perdagangan yang menunjukkan betapa pentingnya hubungan dengan kedua negara itu. Merujuk data Badan Pusat Statistik, ekspor Indonesia ke China pada 2025 mencapai sekitar US$ 67,04 miliar, sementara impor dari China sebesar US$ 87,54 miliar—menciptakan defisit sekitar US$ 20,50 miliar. Di sisi lain, total perdagangan barang dan jasa dengan Amerika Serikat menyentuh US$ 50,7 miliar pada tahun yang sama.
Bamsoet mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan kerja sama bukan sekadar nilai transaksi, melainkan seberapa besar manfaatnya bagi industri dalam negeri. “Masalahnya bukan dengan siapa kita berdagang, tetapi apakah hubungan perdagangan tersebut memperkuat industri nasional atau justru menciptakan ketergantungan,” tegasnya.
Soal keanggotaan Indonesia di BRICS yang resmi bergabung sejak Januari 2025, Bamsoet menegaskan forum itu bukan pakta militer dan harus dimanfaatkan sebagai ruang diplomasi tambahan—bukan sebagai bentuk keberpihakan. Indonesia, katanya, bisa mengejar kepentingan di BRICS sambil tetap menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat, Jepang, Australia, Uni Eropa, dan mitra lainnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kemandirian politik luar negeri harus ditopang oleh fondasi ekonomi dan pertahanan yang kokoh. Surplus perdagangan Indonesia sepanjang 2025 tercatat sekitar US$ 41,05 miliar, dari total ekspor US$ 282,91 miliar dan impor US$ 241,86 miliar—angka yang menurutnya perlu diikuti penguatan manufaktur, hilirisasi, dan diversifikasi pasar.
Pada akhirnya, Bamsoet menegaskan bahwa pertahanan modern bukan hanya soal kekuatan militer, tapi juga mencakup keamanan siber, ketahanan pangan, energi, dan teknologi. Sebuah pengingat bahwa menjadi negara yang berdaulat penuh berarti mampu menentukan arah kebijakan sendiri, bukan terseret arus persaingan kekuatan-kekuatan besar dunia.
Sumber: Detik.com



